Ultimate magazine theme for WordPress.

Kemenkop UKM Dampingi Usaha Kelas Menengah Masuk Pasar Ekspor

JAKARTA – Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit, mengatakan Kementerian Koperasi dan UKM fokus mendampingi dan mendorong usaha skala menengah berbasis sektor riil, dan berskala ekonomi melalui sinergi lintas stakeholder, untuk naik kelas agar masuk ke pasar ekspor.

“Usaha menengah di Indonesia mencapai 60.702 pelaku dengan total kontribusi ekspor 10,85 persen,” kata Victoria seperti ditulis Minggu (16/2/2020).

Menurutnya usaha menengah yang dimaksud merupakan usaha beromzet Rp 2,5 miliar hingga Rp 50 miliar, dengan aset lebih dari Rp 500 juta hingga Rp 10 miliar.

Pihaknya akan menerapkan strategi “high touch” untuk skala usaha menengah dengan di antaranya, melakukan market driven atau market intelijen dengan bekerja sama Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Perdagangan.

Strategi itu untuk mengetahui produk apa saja yang diminati oleh pasar dan supaya spesifikasinya jelas. Sehingga produk yg dihasilkan UKM itu sudah sesuai dengan permintaan pasar. Demi mencaapi hal itu pemerintah banyak memfasilitasi untuk peningkatan produktivitas lainnya, supaya pola pikir pelaku UKM berubah menjadi pola pikir usaha terus- menerus.

“Kami akan melakukan kurasi champion dengan melibatkan asosiasi profesi, komunitas kreatif, local brand activist, dan akun media sosial,” ujarnya.

Di sisi lain juga melakukan digitalisasi UMKM (proses bisnis dan akses pasar), memperluas creative space (local brand) di daerah, dan membuka channel distribusi (Horeka, Mall, Marketplace).

Seiring dengan itu juga dilakukan scalling up dan internasionalisasi produk UKM, melalui dukungan trading house, standardisasi, sertifikasi internasional, investasi atau IPO.

“Hal yang tak kalah penting lainnya adalah memobilisasi experties menjadi mentor UKM dalam pengembangan usaha dan mengembangkan factory sharing berbasis value chain,” jelasnya.

Karena memang tantangan ekspor ini jumlahnya cukup besar. Oleh karena itu pemerintah sedang membuat strategi bagaimana mendorong usaha menengah. Alasan memilih fokus pada usaha menengah yakni usaha menengah tumbuh dengan desain.

“Usaha menengahlah yang paling prospek, dan menurut undang-undang juga tugas dari kementerian pusat adalah mendorong usaha menengah. Nah ini yg coba kita dorong, usaha menengah itu yang punya produknya prospek pasar, lalu kedua UKM yang punya sumber daya bahan baku yang melimpah ada dibasis komunitas,” jelasnya.

Dengan begitu, jika pihaknya terus mendorong pengembangan usahanya maka komunitas itu juga akan menerima nilai tambab yang cukup besar. Namun, kembali lagi pada bagaimana pihaknya menjalin kolaborasi dengan berbagai stakeholder, baik pemerintah maupun swasta. “Kita akan kerja sama untuk mendorong UKM naik kelas,” tegasnya.

Permodalan

Sementara itu, terkait permodalan Pemerintah sudah membuat skema-skema kredit, seperti KUR bunga yang cukup rendah yakni 6 persen.

“Pemerintah juga sedang mendorong kredit yang sesuai dengan bisnis modal dari masing-masing usaha UKM. Kita juga dorong dari segi packaging kemudian promosinya dan pemasarannya supaya produk itu masuk ke pasar,” jelasnya.

Menurutnya, terkait permodalan sudah tidak masalah. Karena sudah ada pembiayaan, misalnya untuk level mikro pihaknya ada permodalan yang namanya ‘unik, mekar, dan lain sebagainya’, lalu untuk menengah ada KUR, pembiayaan perbankan, dan CSR.

“yang masalah sebetulnya pasarnya, kita kasih pun biaya besar-besaran kalau ga ada pasarnya nothing kan, karena kalau sudah ada pasar, proses siap, siapapun mau masuk, investor sekalipun mau masuk, itu lah yang kita coba dorong supaya UKM Indonesia naik kelas. Nah untuk target ekspor, saat ini kita masih 14 persen, kita coba naikkan sampai tahun 2024 capai 30 persen,” pungkasnya.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.