Ultimate magazine theme for WordPress.

Mewaspadai Aksi Radikal Bulan Ramadhan

Oleh : Alfisyah Kumalasari )*

 

Bulan puasa adalah waktu yang membuat kamum muslimin bahagia karena bisa beribadah dengan khusyuk. Namun di tengah kesucian bulan ini, Anda wajib waspada akan munculnya teror dari kaum radikal yang ingin memecah belah persatuan bangsa. Di pandemi corona juga kaum radikal mulai menyebarkan pengaruhnya agar masyarakat merasa khawatir dalam beribadah.

Ketika memasuki bulan Ramadhan, kita semua berharap bisa menjalaninya dengan penuh kedamaian.  Semua omongan negatif berusaha dibungkam karena takut bisa mengurangi esensi puasa. Kaum muslimin juga rajin berburu pahala dengan rajin mengaji (kalau bisa khatam al-quran) dan makin sering bersedekah, serta memberi beras zakat kepada fakir miskin.

Sayangnya kedamaian di bulan puasa bisa rusak oleh ulah oknum kaum radikal. Mereka bisa seenaknya mengebom kantor polisi, seperti yang terjadi di Surakarta tahun 2019 lalu. Padahal peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan, keademan puasa jadi tercabik-cabik karenanya. Masyarakat jadi gempar dan was-was jika terpaksa keluar rumah untuk belanja, karena takut akan terjadi teror.

Di bulan Ramadhan, radikalisme juga bisa muncul dari rumah ibadah. Penyebabnya adalah ulah dari sebagian oknum yang didaulat untuk ceramah, tapi malah memaki-maki pemerintah dan menyebarkan paham radikal. Mereka lupa bahwa presiden harus dihormati dan Indonesia adalah negara pancasila. Namun penceramah itu malah ingin paham negara diubah seenaknya sendiri.

Di tengah pandemi corona, paham radikal juga bisa menyusup melalui grup WA. Ada pesan broadcast yang tersebar, yang bilang kalau pemerintah tidak bisa menangani corona. Padahal itu adalah berita hoax, dan diambil dari artikel website yang sengaja dibuat untuk memecah persatuan negeri. para teroris tidak hanya pintar membuat bom, tapi juga cerdik dalam memanfaatkan dunia maya, dengan terus memproduksi berita palsu. Karena sebuah berita yang salah, jika diulang terus-menerus akan terdengar seperti berita asli.

Masyarakat sudah seharusnya bertindak cerdas dengan memilah mana berita asli, dan mana yang hoax. Sudah ada situs khusus yang menjelaskan bahwa berita-berita yang sudah kadung tersebar itu adalah hoax. Jika ada teman atau saudara yang tidak percaya, maka lihatkanlah website itu. Selain itu, ketika menerima broadcast, jangan asal dicopy lalu dilanjutkan ke grup lain. Bacalah dengan teliti dan selidiki kebenarannya terlebih dahulu, jangan sampai Anda turut menyebarkan hoax juga.

Lantas bagaimana cara mengatasi teroris yang mengincar tempat-tempat strategis seperti kantor polisi, mall, dan bahkan rumah ibadah? Jangan takut akan aksi mereka. Jika Anda menemukan  sesuatu yang  tidak wajar, seperti bungkusan aneh, serahkan langsung kepada pihak berwajib. Bisa jadi itu bom yang ditinggal oleh teroris.

Begitu pula jika ada tetangga baru yang gerak-geriknya mencurigakan karena tidak pernah bergaul sama sekali, bahkan tidak pula mau menyapa orang lain ketika berada di depan rumah. Ia malah sering mengundang banyak orang dan mereka mengenakan atribut khusus. Anda bisa menelepon kantor polisi terdekat agar ada penyelidikan. Bukannya paranoid, tapi bisa jadi itu adalah kumpulan teroris yang sedang rapat.

Teroris tidak pandang bulu dalam bergerak dan tidak melihat kapan pengeboman itu akan dilaksanakan. Tak peduli walau sedang bulan puasa, mereka bisa mengebom atau melempar granat untuk memancing keresahan. Jadi ketika Anda merasa ada yang tidak beres pada seseorang atau satu kelompok, jangan ragu untuk melapor ke pihak yang berwajib.

Mewaspadai kaum radikal bukan berarti Anda adalah seorang yang terlalu curiga atau bahkan punya penyakit paranoid. Namun teroris memang suka beraksi, terutama pada Ramadhan, untuk memecah-belah persatuan Indonesia. Pandemi corona juga mereka manfaatkan untuk menyebar hoax dan jangan sampai Anda ikut tertipu akan berita tersebut.

 

)* Penulis adalah warganet, aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.