Ultimate magazine theme for WordPress.

Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Bulan Ramadhan

Oleh : Zakaria )*

 

Penyebaran radikalisme masih menjadi ancaman nyata bangsa Indonesia. Bahkan, momentum Ramadhan seperti saat ini sering dimanfaatkan kelompok radikal dan pelaku terror untuk beraksi di masyarakat. TNI/Polri dan masyarakat harus mampu meningkatkan sinergitas dan tidak boleh lengah dalam mewaspadai radikalisme di bulan Ramadhan.

Ramadhan 1441 H berbeda dari tahun-tahun sebelumnya akibat adanya pandemi Covid-19. Situasi tersebut memicu pra publik figur ataupun tokoh agama, untuk  mulai melaksanakan ceramah ataupun kelas-kelas secara online yang bisa diakses melalui aplikasi daring.

Hal ini juga dimanfaatkan oleh kaum radikalis untuk tetap menyebarkan ideologinya melalui media daring, bahkan hal ini juga sudah dilakukan sebelum pandemi virus corona.

Perlu kita ketahui, bahwa lahirnya paham radikalisme dan terorisme berawal dari pemahaman agama dengan belajar secara otodidak. Yakni tanpa adanya guru dan sanad keilmuan yang jelas.

Adanya aksi teror bom maupun teror kepada aparat keamanan sendiri merupakan bukti dari paham radikal yang hanya mengedepankan pembelajaran agama hanya secara tekstual tanpa mengedepankan kontekstualnya.

Kita semua harus mengetahui perkembangan zaman, dimana ketika ada seseorang yang memaparkan tentang jihad, tentu jangan disamakan dengan makna jihad pada masa kini. Tentu saja memaknai jihad dengan berperang adalah sesuatu yang cacat logika jika disandingkan dengan konteks masa kini.

Padahal di era milenial ini, jihad bisa dilakukan dengan ilmu dan dakwah yang bermanfaat, bukan lantas dengan ajakan untuk berperang atau melukai orang yang berbeda pandangan.

Masyarakat Indonesia secara umum haruslah memahami bahwa kita telah lama hidup berdampingan dengan berbagai aliran kepercayaan. Semangat toleransi tentu harus digalakkan agar tercipta negara yang rukun, aman dan damai.

Sebelumnya, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo telah meminta kepada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk meningkatkan pencegahan meluasnya radikalisme dan terorisme di lingkungan masyarakat.

Bambang mengatakan, upaya pencegahannya dengan memberikan edukasi mengenai penjelasan terorisme, radikalisme dan intoleransi, dan cara untuk mencegahnya masuk dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga mengatakan, bahwa MPR bersama institusi maupun LSM terkait akan terus melakukan sosialisasi Pancasila kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Dia juga meminta seluruh anggota MPR untuk terus meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pembinaan empat pilar kepada seluruh lapisan masyarakat.

Terorisme tentu tidak bisa datang secara tiba-tiba hingga aorang menjadi pelaku teror. Hal ini bisa diibaratkan seperti gunung es yang dibawahnya adalah sikap intoleransi.

Salah satu cara mengukur sikap toleransi adalah dengan memberi pertanyaan kepada masyarakat mengenai sikap mereka terhadap non-muslim terkait hak sipil mereka. Misal berupa hak politik maupun terkait hak ibadah.

Misalnya tentang umat non-muslim yang membangun rumah ibadah di sekitar mereka. Kemudian bagaimana pendapat mereka tentang umat non-muslim yang mengadakan kegiatan keagamaan di sekitar mereka.

Selain itu ada juga cara untuk mengukur radikalisme, hal tersebut bisa digunakan dengan bertanya mengenai tindakan atau keinginan responden melakukan perusakan rumah ibadah agama lain.

Tentu saja masalah radikalisme dan intoleransi menjadi sesuatu yang tidak hanya meresahkan, tetapi juga membahayakan baik bagi agama maupun negara.

Seiring dengan araknya intoleransi mulai dari sindiran di media sosial, sikap diskriminatif, penghancuran rumah ibadah hingga bom bunuh diri menjadikan ide-ide tentang toleransi perlu digaungkan kembali.

Indonesia memang memiliki populasi umat Islam paling banyak dibandingkan dengan agama lain. Meski demikian umat Islam tidak hanya berkonflik dengan masyarakat lain agama, tetapi juga seringkali membuat sebuah klaim bahwa apa yang diyakininya adalah yang paling benar alias “paling islam” sehingga dengan mudahnya menyalahkan dan membenci umat yang berbeda pandangan.

Jangan sampai hanya karena berbeda pandangan, lantas kita jadi bermusuhan hingga melakukan aksi radikal atau aksi ekstreme, hal itu tidak akan membuahkan surga dan tidak akan mendapatkan label mujahid.

Radikalisme telah terbukti merusak persatuan, tentunya dalam nuansa ramadhan kali ini sikap toleransi bisa kita tunjukkan dengan tidak melakukan perundungan terhadap warung yang buka pada siang hari, hal ini karena tidak semua orang bisa berpuasa, seperti non-muslim, ibu hamil ataupun muslim yang tengah sakit.

)* Penulis adalah mahasiswa Universitas Pakuan Bogor

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.