Ultimate magazine theme for WordPress.

New Normal Membuat Ketahanan Pangan Semakin Baik

JAKARTA – Pada masa transisi dalam memasuki era new normal berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak sebagai langkah antisipasi dampak dari pandemi Covid-19. Mulai dari pencegahan penularan atau penyebaran seperti penyemprotan cairan desinfectan, kampanye penggunaan masker secara massif, penerapan berbagai protokol kesehatan juga sosialisasi dan himbauan hingga pemberian bantuan sosial kemanusiaan. Dalam menyongsong New Normal sebagai tatanan kehidupan baru untuk melawan Covid-19, kita dituntut untuk merubah gaya dan pola hidup baik dari segi kebersihan dan kesehatan maupun yang berkaitan dengan upaya dalam memutus rantai penyebaran atau penularan Covid-19. Selain itu, penguatan ketahanan di bidang pangan menjadi salah satu faktor penting demi keberlangsungan roda perekonomian dan kehidupan.

Berbagai cara telah dilakukan pemerintah untuk membuat ketahanan pangan semakin baik pada masa transisi menuju new normal, antara lain pertama, melakukan peningkatan kualitas pangan didukung oleh berbagai pihak terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khususnya yang mengelola sektor pangan. Kedua, BUMN pangan sebagai agen pembangunan telah dapat menciptakan stabilitas harga pangan. Agar gejolak harga pangan yang kerap kali terjadi tidak menjadi suatu hal yang sulit untuk ditangani. Ketiga, dengan terciptanya peningkatan kualitas pangan dan stabilitas harga pangan, maka selanjutnya melakukan control terhadap perbaikan gizi, agar tidak ada lagi istilah gizi buruk yang terjadi di masyarakat. Keempat, melakukan mitigasi gangguan terhadap pangan, karena pangan sangat rentan terhadap cuaca. Kelima, guna menciptakan peningkatan kualitas pangan, pemerintah juga telah melakukan peningkatan kesejahteraan petani pangan, mengingat petani adalah ujung tombak peningkatan pasokan pangan.

Disisi lain, bila merujuk kepada data yang ada, ketahanan pangan Indonesia semakin membaik dari tahun ke tahun. Indeks Ketahanan Pangan Global (Global Food Security Index/GFSI) pada tahun lalu sebesar 62,6. Angka ini membaik dari tahun sebelumnya yang sebesar 54,8. Skor ini membawa Indonesia ke posisi 62 dunia, naik dari tahun sebelumnya yang di posisi 65. Sepanjang 2012-2019, tren ketahanan pangan Indonesia cenderung menunjukkan perbaikan. Penilaian GFSI terdiri dari empat aspek. Pertama, Indonesia mendapatkan skor sebesar 70,4 untuk Affordability. Kedua, mendapatkan skor 61,3 untuk availability. Ketiga, mendapatkan 47,1 untuk quality and safe. Sebagai informasi, affordability aspek yang mengukur kemampuan konsumen untuk membeli makanan. Availability aspek mengukur kecupukan pasokan pangan nasional, risiko gangguan pasokan, kapasitas negara untuk mendistribusikan pangan, dan upaya penelitian untuk memperluas hasil pertanian. Quality and safe berkaitan dengan kualitas dan keamanan standar nutrisi dan pengawasan impor.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.